Kita scroll berita banjir rob di pesisir utara Jawa, kebakaran hutan di Sumatera, lalu menutup aplikasi dengan dada sesak. Kita bilang ke teman, “gue takut sama masa depan,” dan dijawab: “lebay banget.” Padahal yang kita rasakan punya nama di literatur kesehatan mental: eco anxiety — kecemasan ekologis. Bukan lebay. Bukan drama. Krisis iklim adalah krisis kesehatan mental generasi kita.

Riset-riset menunjukkan polanya jelas: rasa bersalah karena gaya hidup (eco-guilt), duka melihat kampung halaman berubah (solastalgia), kelelahan karena doomscrolling bencana setiap hari. Sebagian dari kita bahkan takut menikah atau punya anak — bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tega mewariskan bumi yang rusak. Lalu stigma pronatalis datang menyalahkan: “kok nggak mau punya anak?” Kita yang cemas disuruh diam, sementara yang merusak dibiarkan berisik.

Mengapa Kecemasan Ini Nyata?

Karena krisisnya nyata, dan pengkhianatnya juga nyata. Ambil contoh RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET): dibahas sejak 2022, pembahasannya sudah 95 persen sejak akhir 2024, tapi 24 September 2026 kemarin DPR justru memperpanjang lagi masa pembahasannya. Sementara itu drafnya masih mengakomodasi “energi baru” seperti batu bara tergaskan dan batu bara tercairan — fosil yang dibungkus label hijau. Porsi energi terbarukan kita baru 15,75 persen, jauh dari target 23 persen. Transisi energi kita macet bukan karena teknologinya belum ada, tapi karena kemauan politiknya belum ada.

Siapa yang Diuntungkan?

Industri fosil dan elite yang hidup dari status quo. Mereka menjual narasi hijau sambil mempertahankan mesin batu bara — greenwashing yang dilegalkan lewat regulasi. Dan ketika kita protes, kita dicap lebay, anti-pembangunan, atau disuruh “jangan baper.”

Kabar dari Pengadilan: Nelayan Pari vs Holcim

Tapi ada kabar yang memberi harapan — dan datangnya justru dari pengadilan, bukan dari Senayan. Empat nelayan Pulau Pari, Kepulauan Seribu — Asmania, Arif, Edi, dan Bobby — menggugat raksasa semen Swiss, Holcim, ke Pengadilan Kanton Zug. Pulau mereka berulang kali dilanda banjir rob; sebagian wilayahnya diprediksi tenggelam dalam 30 tahun. Pada 22 Desember 2025, pengadilan memutuskan gugatan mereka dapat diterima — pertama kalinya dalam sejarah Swiss gugatan iklim terhadap korporasi besar lolos tahap awal. Tuntutannya jelas: kompensasi atas kerusakan, dana perlindungan pesisir, dan penurunan emisi yang cepat. Holcim bilang akan banding. Tapi pintu sudah terbuka: korporasi pencemar akhirnya bisa diseret ke meja hijau oleh nelayan kecil dari pulau kecil.

Apa Efeknya buat Masa Depan Kita?

Kalau transisi energi terus dimacetkan, kitalah yang menanggung tagihannya: banjir, gagal panen, dan udara yang makin tidak layak. Tapi Pulau Pari mengajarkan satu hal: kecemasan bisa diubah menjadi perlawanan yang terorganisir. Bukan sekadar sedih sendirian — melainkan solidaritas dan litigasi.

Jadi, Kamu Tidak Lebay

Jadi kalau kamu cemas soal iklim, kamu tidak lebay. Kamu hanya lebih jujur daripada mereka yang pura-pura tidak melihat.