Itu bukan takdir, tapi murni desain.
Kita dibilang apatis, padahal kita muak dengan ketidakpastian dan cara elite menghalalkan segala cara. Cari kerja susah padahal ijazah lengkap, meritokrasi mati, kesehatan mental terancam. Politik dikuasai orang tua yang bahkan tidak pernah bertanya ke anak muda, maunya apa?
Itu bukan keluhan. Itu diagnosis — dan serial ini adalah tindak lanjutnya.
Apa Ini?
Politik Tanpa Anak Muda adalah serial lima hari dari kacamata Gen Z, untuk Gen Z dan milenial, bersuara sebagai jurnalis Ira Amalia. Bukan analisis dari menara gading, bukan ceramah dari orang yang tak pernah antre kerja.
Setiap hari satu topik, setiap topik dibedah dengan satu pertanyaan mutlak: apa efeknya buat masa depan kita?
Mengapa Sekarang?
Karena politik di negeri ini dirancang tanpa kita. Keputusan soal kerja, iklim, dan kuasa dibuat oleh generasi yang tidak akan menanggung akibat jangka panjangnya — kitalah yang akan.
Pemilih muda adalah mayoritas, tapi kursi kekuasaan tetap dikunci rapat. Kita dipajang di baliho, bukan diundang ke ruang rapat. Lalu ketika kita cemas, kita dicap lebay; ketika kita diam, kita dicap apatis.
Padahal sistem inilah yang memproduksi kecemasan kita, lalu menyalahkan kita karena merasakannya.
Apa Tujuannya?
Mengubah cemas menjadi sadar. Lima hari ke depan kita akan membedah prekarisasi kerja — jadi ojol, ghost worker AI, moderator konten, dengan bos bernama algoritma; kecemasan iklim yang diremehkan sementara krisisnya nyata; dan gerontokrasi oligarkis yang mengunci kita dari kuasa.
Hari terakhir kita tutup dengan satu penegasan: bukan kamu yang rusak.
Seri ini hadir untuk mengubah rasa cemas kita menjadi kesadaran kritis. Selamat datang — mari mulai.

