
Cemas Iklim, Dicap Lebay
Kita scroll berita banjir rob di pesisir utara Jawa, kebakaran hutan di Sumatera, lalu menutup aplikasi dengan dada sesak. Kita bilang ke teman, “gue takut sama masa depan,” dan dijawab: “lebay banget.” Padahal yang kita rasakan punya nama di literatur kesehatan mental: eco anxiety — kecemasan ekologis. Bukan lebay. Bukan drama. Krisis iklim adalah krisis kesehatan mental generasi kita. Riset-riset menunjukkan polanya jelas: rasa bersalah karena gaya hidup (eco-guilt), duka melihat kampung halaman berubah (solastalgia), kelelahan karena doomscrolling bencana setiap hari. Sebagian dari kita bahkan takut menikah atau punya anak — bukan karena tidak mau, tapi karena tidak tega mewariskan bumi yang rusak. Lalu stigma pronatalis datang menyalahkan: “kok nggak mau punya anak?” Kita yang cemas disuruh diam, sementara yang merusak dibiarkan berisik. ...
